Iran telah menembak jatuh sekitar 30 drone MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat sejak awal perang berkecamuk. Informasi tersebut disampaikan oleh seorang pejabat Amerika Serikat pada hari Rabu.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Drone Reaper mulai digunakan oleh Angkatan Udara sejak tahun 2007. Pesawat tanpa awak ini menjadi pilar utama dalam operasi antiterorisme Amerika Serikat di Timur Tengah dan wilayah konflik lainnya. Penggunaan ini mencerminkan ketergantungan militer yang tinggi terhadap pesawat tanpa awak selama perang di Irak dan Afganistan.
Berdasarkan rancangan awalnya, Reaper dibuat untuk beroperasi di wilayah yang telah dikuasai sepenuhnya oleh kekuatan udara Amerika Serikat. Namun, keunggulan udara tersebut berulang kali mendapat tantangan keras dari pihak Tehran.
Angkatan Udara Amerika Serikat mengumumkan kontrak pembelian lima tahun terakhir untuk Reaper pada tahun 2020. Pihak pabrikan, General Atomics, telah menutup jalur produksi tahun lalu setelah memproduksi total 575 unit. Menurut juru bicara General Atomics, C. Mark Brinkley, gelombang terakhir drone ini berbiaya sekitar 16 juta dolar AS per unit ketika dibeli dalam paket berisi empat unit.
Iran mengklaim telah menjatuhkan satu Reaper saat serangan Amerika Serikat pada hari Selasa. Media pemerintah Iran juga menyatakan bahwa satu drone "musuh" berhasil ditembak jatuh di atas wilayah Iran selatan dalam serangan yang terjadi pada hari Rabu.
Pada bulan Mei, Jenderal Kenneth Wilsbach selaku perwira tinggi Angkatan Udara menyampaikan kepada anggota parlemen dalam sidang anggaran bahwa Reaper menjadi "pemain paling berharga" dalam perang melawan Iran. "Kami telah melakukan banyak sekali serangan. Tidak ada platform lain yang mendekati pencapaian ini," kata Kenneth Wilsbach saat merujuk pada penggunaan drone tersebut.
Kabar penembakan drone ini muncul saat Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan lanjutan ke Iran pada hari Rabu. Aksi ini dilakukan setelah Presiden Donald Trump memberi isyarat bahwa gencatan senjata yang rapuh sejak awal telah berakhir akibat serangan balasan yang terus terjadi.
Menurut pernyataan resmi dari CENTCOM di media sosial X pada hari Rabu, tindakan tegas diambil terhadap Tehran. "Amerika Serikat menuntut pertanggungjawaban Iran atas agresi tidak mendasar baru-baru ini terhadap pelayaran komersial dan awak sipil yang bernavigasi bebas di jalur perairan internasional yang vital," tulis CENTCOM.
Amerika Serikat telah kehilangan beberapa pesawat dalam perang ini. Pada bulan Maret, pertahanan udara Kuwait secara tidak sengaja menembak jatuh tiga jet tempur F-15 milik Amerika Serikat namun seluruh kru berhasil keluar dengan selamat. Masih di bulan Maret, satu pesawat pengisi bahan bakar KC-135 jatuh di Irak barat setelah tabrakan di udara dengan KC-135 lainnya yang menewaskan enam awak kapal.
Pada bulan April, sebuah jet tempur F-15 milik Angkatan Udara dijatuhkan oleh tembakan Iran. Pilot berhasil diselamatkan segera setelah kejadian dan perwira sistem senjata dievakuasi dua hari kemudian. Selain F-15, sebuah pesawat A-10 yang memberikan dukungan udara untuk operasi penyelamatan juga terkena tembakan Iran, tetapi berhasil terbang menuju Kuwait tempat pilotnya keluar dengan selamat sebelum pesawat jatuh.