Dubai - Amerika Serikat meluncurkan serangan udara ke wilayah Iran pada Selasa pagi. Langkah ini diambil beberapa jam setelah Presiden Donald Trump berjanji untuk memberlakukan kembali blokade pelabuhan Iran. Trump juga berencana memungut biaya keamanan bagi kapal yang melewati Selat Hormuz. Iran segera membalas dengan menyerang sejumlah sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah.
Related Stories
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Now →Berdasarkan situasi di lapangan, aksi militer ini menghancurkan kesepakatan damai sementara yang dirancang untuk menghentikan pertempuran. Kesepakatan tersebut awalnya bertujuan membuka kembali jalur pelayaran penting pasokan energi dunia dan memberi waktu bagi para negosiator. Kini, pertempuran kembali melanda kawasan tersebut dan mengancam ekonomi global. Tanpa solusi diplomatik yang cepat, konflik ini dapat meluas menjadi perang total.
Fokus konflik saat ini tertuju pada Selat Hormuz. Pada masa damai, seperlima dari total perdagangan minyak mentah dan gas alam dunia melewati jalur ini. Iran secara efektif menutup jalur tersebut selama perang dengan menyerang dan mengancam kapal-kapal yang melintas. Strategi ini terbukti menjadi keunggulan strategis Teheran karena berhasil melonjakkan harga minyak, pupuk, dan barang lainnya di saat para pemimpin dunia sedang berjuang mengatasi tingginya biaya hidup.
Menurut laporan Komando Sentral militer Amerika Serikat, serangan udara mereka menyasar beberapa wilayah di Iran. Target serangan meliputi "sistem pertahanan pesisir, lokasi rudal dan drone, serta kemampuan maritim". Pemerintah Iran mengakui adanya serangan tersebut tetapi belum memberikan laporan resmi mengenai jumlah korban atau kerusakan yang terjadi.
Pihak militer Amerika Serikat menegaskan bahwa "Serangan ini akan terus memberikan dampak buruk bagi pasukan Iran. Langkah ini juga akan memperlemah kemampuan mereka untuk menyerang warga sipil yang tidak bersalah dan pelayaran komersial di Selat Hormuz." Sesaat setelah pengumuman militer tersebut, Donald Trump menyebutnya sebagai "serangan besar lainnya" dan menyatakan bahwa Amerika Serikat kembali menerapkan blokade.
Iran membalas dengan meluncurkan serangan yang menargetkan Bahrain, Yordania, dan tiga kapal tanker yang melintasi selat. Dua kapal tanker yang terkait dengan Uni Emirat Arab sempat terbakar. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab menyatakan serangan terhadap kapal tanker Mombasa dan Al Bahiyah menewaskan satu pelaut dan melukai delapan orang lainnya. Pemerintah Uni Emirat Arab kini mengancam akan melakukan aksi balasan.
Perusahaan pelayaran Belanda, Stolt Tankers, melaporkan bahwa salah satu kapal mereka juga diserang pada waktu yang hampir bersamaan. Serangan terhadap kapal Stolt Magnesium di lepas pantai Oman di Laut Arab menyebabkan kebakaran di ruang mesin. Meski demikian, pihak perusahaan memastikan seluruh kru kapal dalam kondisi selamat. Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Mombasa dan Al Bahiyah dengan alasan kedua kapal tersebut "mengabaikan peringatan berulang kali".
Beberapa jam setelah Amerika Serikat menyatakan serangannya selesai, kota Bushehr di Iran dihantam ledakan di sedikitnya empat lokasi menurut laporan kantor berita resmi IRNA. Peristiwa ini memunculkan dugaan bahwa negara-negara Arab di Teluk meluncurkan serangan tanpa klaim ke Iran untuk memberikan efek jera. Di sisi lain, Bahrain yang menjadi markas Armada ke-5 Angkatan Laut Amerika Serikat juga diserang. Sirene peringatan rudal di Bahrain berbunyi tiga kali dan memaksa warga mencari perlindungan. Sementara itu, militer Yordania menyatakan berhasil mencegat empat rudal dari Iran.
Konflik yang kembali membara ini mengancam keberlangsungan kesepakatan damai sementara yang saat ini hampir berjalan separuh dari masa 60 hari yang direncanakan. Washington sempat mencabut blokade pada pertengahan April lalu sebagai bagian dari kesepakatan, namun militer Amerika Serikat menyatakan akan memberlakukannya kembali. Melalui media sosial, Trump menulis, "Kami memberlakukan kembali BLOKADE IRAN. Negara-negara lain akan mendapatkan akses yang adil dan terbuka di Selat."
Namun, Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat akan memungut biaya perlindungan sebesar 20 persen dari nilai kargo kapal yang melintas guna menutup biaya keamanan. Kebijakan ini mengubah haluan diplomasi Amerika Serikat yang selama ini menjamin kebebasan navigasi tanpa biaya. Akibat ketegangan ini, harga minyak mentah Brent melonjak hingga melewati angka 87 dolar AS per barel pada perdagangan Selasa, yang mengancam kenaikan biaya hidup secara global.