Aksi Pussy Riot di Final Piala Dunia 2018
Nika Nikulshina, anggota Pussy Riot, mengenang aksinya menerobos final Piala Dunia 2018 demi menentang rezim Vladimir Poutine di Rusia.
Aksi Protes di Final Piala Dunia
Nika Nikulshina bersama tiga rekan aktivisnya mengenakan atribut seragam polisi Rusia saat memasuki lapangan pertandingan. Mereka memanfaatkan panggung global turnamen Sepak Bola tersebut untuk menyuarakan perlawanan terhadap sistem politik negara mereka.
Aksi nekat itu langsung menarik perhatian jutaan pasang mata di seluruh dunia yang sedang menyaksikan pertandingan puncak. Nika bahkan sempat menyempatkan diri untuk menyapa bintang muda Prancis Kylian Mbappé sebelum akhirnya digelandang aparat keamanan.
Dampak dan Konsekuensi Politik
Protes tersebut memicu kemarahan aparat keamanan Rusia yang langsung menangkap para pelaku di dalam stadion. Nika harus menghadapi serangkaian intimidasi, penahanan, hingga akhirnya memilih jalan hidup di dalam pengasingan demi keselamatan dirinya.
Kehidupan Nika setelah peristiwa tersebut berubah drastis akibat tekanan politik yang terus menerus dari pemerintah setempat. Ia menceritakan bagaimana perjuangan melawan penindasan di Rusia harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Pertemuan dan Kenangan di Paris
Pertemuan dengan Nika terjadi di Kota Paris saat cuaca sedang dilanda hujan deras di musim semi. Suasana tersebut mengingatkannya kembali pada guyuran air hujan yang membasahi Stadion Loujniki pada hari final tahun 2018 silam.
Ia sempat merasa skeptis ketika diajak mengenang kembali peristiwa bersejarah yang mengubah jalan hidupnya secara total. Namun, ia tetap bersedia membagikan kisah perjuangan panjangnya melawan ketidakadilan di tanah airnya.